Bukan Permusuhan dalam Perbedaan, Tetapi Persatuan dalam Perbedaan. #UnityForUs

Jumat, 01 Juni 2012

Almost ..

Semua perjuanngan kita di kelas X hampir selesai kawan, dari mulai ribetnya ambil formulir, mbayar pendaftaran, ikut seleksi macem-macem, hingga pengumuman bahwa kita diterima, kemudian mulai menjadi teman baru ketika MOS, ya walaupun dengan cara yang terkesan sedikit coercive.
Setelah MOS, kita bergabung di kelas X-4, awal-awal masuk kelas di hari pertama ada yang masih pake seragam SMP masing-masing, dan yang paling saya ingat adalah seragamnya si Azhaqqi "Blacksweet" Yahya. Saat itu masih ada rasa malu-malu dalam kita berkenalan, masing-masing masih hanyut akan kenangan masa SMP.

Jumat, 27 April 2012

Kerukunan Umat Beragama Modal Hidup Berbangsa dan Bernegara


Kerukunan merupakan dambaan semua orang, namun untuk mewujudkan kerukunan tidaklah mudah, karena adanya berbagai kepentingan. Berbagai kepentingan dapat memunculkan konflik.
Menurut Bapak K.H.R. Junaidi Jazuli, konflik yang paling membahayakan adalah konflik yang dipicu oleh kepentingan keagamaan dan konflik kepentingan lain namun dikemas dengan kemasan agama.
Faktor penyebab konflik yang bernuansa agama dapat bersifat internal dan eksternal. Faktor internal misalnya penyiaran agama, penodaan agama, dan penafsiran agama. Sedangkan faktor eksternal meliputi pendirian rumah ibadah, lemahnya peran pemerintah, social ekonomi, lemahnya pendidikan nasionalisme, gerakan agama transnasional, fragmatisme media, dan pengaruh politik praktis.
Upaya untuk mempersempit ruang konflik antara lain dengan :
1.     Menyadari bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan justru harus dipandang sebagai anugerah Tuhan.
2.     Harus ada keseimbangan dalam semua kepentingan.
3.     Pendidikan nasionalisme serta nilai-nilai Pancasila perlu ditingkatkan.
4.     Peningkatan pemberdayaan PBB.
 - GEMPAR -

Selasa, 27 Maret 2012

PERBEDAAN ITU INDAH



Ibu Theresa dari Calcuta pernah memberi sekantong beras kepada seorang petani beragama Hindu yang miskin sekali di pinggir kota Calcuta. Ibu Theresa heran melihat bahwa tidak lama kemudian, petani itu membawa separuh dari kantong itu keluar rumah, “Apa yang dilakukannya?” Ternyata, petani Hindu itu memberikan sebagian dari berasnya kepada seorang petani Kristen yang lebih miskin lagi.

          Motto negara Amerika yang berbunyi pluribus unum yang aslinya dipilih oleh John Adams, Benyamin Franklin dan Thomas Jefferson mengajak setiap warga untuk saling menghargai perbedaan. Hal yang sama bisa dilihat pada semboyan negara Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu adanya atau Unity in Diversity. Menghargai perbedaan memang sungguh merupakan anugerah jika setiap pribadi menghayatinya. Sejak bumi diciptakan, Tuhan tidak menciptakan semuanya seragam, melainkan suatu perbedaan, sehingga makhluk hidup itu saling melengkapi. Penciptaan manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa dalam konteks perbedaan, tetapi saling melengkapi dan saling menghargai sehingga manusia itu diciptakan sederajat. Bertitik tolak dari sanalah, maka John Gray dalam bukunya “Man from Mars and Woman from Venus” mengajak para pembaca untuk bercermin bahwa dalam diri setiap manusia itu memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dengan demikian, itulah yang menjadi alasan supaya dalam kelemahannya, manusia itu saling membantu dan saling menolong.