
Ibu Theresa dari Calcuta pernah memberi sekantong beras kepada seorang petani beragama Hindu yang miskin sekali di pinggir kota Calcuta. Ibu Theresa heran melihat bahwa tidak lama kemudian, petani itu membawa separuh dari kantong itu keluar rumah, “Apa yang dilakukannya?” Ternyata, petani Hindu itu memberikan sebagian dari berasnya kepada seorang petani Kristen yang lebih miskin lagi.
Motto negara Amerika yang berbunyi pluribus unum yang aslinya dipilih oleh John Adams, Benyamin Franklin dan Thomas Jefferson mengajak setiap warga untuk saling menghargai perbedaan. Hal yang sama bisa dilihat pada semboyan negara Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu adanya atau Unity in Diversity. Menghargai perbedaan memang sungguh merupakan anugerah jika setiap pribadi menghayatinya. Sejak bumi diciptakan, Tuhan tidak menciptakan semuanya seragam, melainkan suatu perbedaan, sehingga makhluk hidup itu saling melengkapi. Penciptaan manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa dalam konteks perbedaan, tetapi saling melengkapi dan saling menghargai sehingga manusia itu diciptakan sederajat. Bertitik tolak dari sanalah, maka John Gray dalam bukunya “Man from Mars and Woman from Venus” mengajak para pembaca untuk bercermin bahwa dalam diri setiap manusia itu memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dengan demikian, itulah yang menjadi alasan supaya dalam kelemahannya, manusia itu saling membantu dan saling menolong.
Kalau dalam berpikir kita menggunakan “kacamat kuda” maka dengan gampang kita akan menolak perbedaan di antara sesama. Peter Rosler Garcia, ahli Politik dan Ekonomi Luar Negeri Hamburg menulis demikian. Contoh paling dahsyat tentu saja kelompok Nazi Jerman. Mula-mula mereka mengasingkan kaum Yahudi. Jerman “asli” dilarang membeli barang di toko milik Yahudi atau menikah dengan orang Yahudi. Kemudian sinagoga dan rumah ibadah Yahudi dibakar. Juga, orang Yahudi dipaksa menjual rumah, tanah, toko, dan perusahaan mereka kepada orang Jerman “asli”. Akhirnya kelompok Nazi membunuh kira-kira enam juta orang Yahudi dan hampir seluruh negara Eropa (Kompas 3 Januari 2006). Dalam film “Hotel Rwanda”, kita dapat menyaksikan, anggota suku Hutu membunuh lebih dari satu juta warga suku Tutsi walaupun kedua suku itu punya bahasa, agama, kebudayaan, dan falsafah hidup yang sama. Dan banyak sekali di antara mereka kawin campur. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa suku Tutsi pada umumnya lebih kaya.
Zaman sekarang ini di banyak tempat mengadakan dialog atau seminar tentang masalah kerukunan beragama. Seperti yang dikemukakan oleh Komaruddin Hidayat dalam artikelnya yang berjudul “Mengadili Keyakinan Agama”. Ia menulis demikian, “Oleh karena itu, jika kebenaran agama semata berdasarkan keyakinan – bisa jadi berdasarkan Kitab Suci dan pencarian makna hidup – sudah pasti kebenaran dan agama selalu bersifat plural dan tidak bisa diseragamkan. Setiap pemeluk agama akan memandang dirinya sebagai titik terdekat dan jalan pintas meraih keselamatan Tuhan. Orang lain (the others, outsiders) bagaikan domba-domba sesat atau kelompok kafir yang harus diselamatkan (Kompas 3 Januari 2006).
Ada suatu pengalaman pribadi seseorang dalam dialog dengan orang yang berkeyakinan lain. Mereka tidak pernah menyinggung tentang doktrin fundamental. Adalah tidak mudah menerangkan makna trinitas kepada orang yang beragama Hindu, misalnya. Sebaliknya sulit juga menjelaskan makna reinkarnasi kepada orang yang beragama Muslim atau Protestan. Namun setiap agama memiliki nila-nilai universal yang diterima, misalnya tentang cinta kasih, kejujuran, dan kesalehan. Cita-cita kita bersama adalah adanya hidup rukun dan damai dalam perbedaan.
(Percikan Hati Desember 2011)
PZR06CD_(C)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentarnya yang baik-baik ya. Jangan komen spam karena gak bakal dimunculin komennya. :)